Selasa, 22 Desember 2015

Sabtu, 05 Desember 2015

Laser, Masa Depan Konektivitas Internet



Pionir upaya ini adalah Google dan Facebook, yang ingin menggunakan teknologi laser untuk menyediakan akses Internet di daerah-daerah terpencil.



Ilustrasi sinar laser. (NASA)

Beberapa perusahaan teknologi melihat laser atau kombinasi teknologi radio dan laser untuk membawa konektivitas Internet ke tingkat berikutnya. 

Google dan Facebook adalah pionir upaya ini. Google, yang menggunakan balon-balon helium di stratosfer untuk menyediakan akses Internet di daerah-daerah terpencil sebagai bagian dari Project 

Loon, ingin menggunakan radio atau laser untuk memungkinkan balon-balon itu memindahkan data di wilayah-wilayah yang jauh dari stasiun penerus di darat. 

Facebook ingin meluncurkan pesawat tak berawak atau drone yang menggunakan sinar laser untuk sambungan Internet kecepatan tinggi di daerah-daerah terpencil. Pesawat tak berawak yang terdekat dengan daerah perkotaan tersebut akan menggunakan laser untuk terhubung ke Internet dan kemudian meneruskan koneksi ke pesawat-pesawat yang terbang di atas daerah pedesaan.
 
"Baik Google maupun Facebook berpikir jika mereka dapat menerbangkan pesawat-pesawat ini ke stratosfer, sekitar 20 kilometer di atas Bumi, mereka bisa berfungsi seperti menara transmisi dan menyebarkan koneksi lebih mudah dan tanpa harus bergantung pada listrik dan kabel dan semua hal di darat," ujar Tom Simonite, kepala biro MIT Tech Review.

Facebook, terutama, sangat tertarik menggunakan laser untuk mengirim data. 
"Mereka mengklaim memiliki rekor baru dan melakukan pengiriman data laser tercepat," ujar Simonite. "Dan saya kira ini memperlihatkan bahwa mereka memang serius melakukan ini dan mencoba mendorong teknologi ini ke depan."

Perusahaan-perusahaan lain menggabungkan teknologi laser ini dengan radio untuk mengirim konektivitas Internet yang tak terputus dalam cuaca buruk. Pada situasi seperti itu, Simonite mengatakan baik koneksi laser maupun radio berlangsung secara paralel, jadi laser dapat memperbaiki kekurangan dalam koneksi radio.

"Laser sangat cepat, tapi jika ada yang menghalangi pancarannya, sinyalnya terblokir," ujarnya.
Jika laser tidak dapat memancar secara lurus, radio akan mengatasi kekurangan itu, jadi saling melengkapi. 

Tapi kebutuhan menggunakan keduanya secara simultan bisa membatasi, ujar Simonite. Ia mengatakan "potensi laser dapat digunakan secara penuh" dengan proyek seperti yang dilakukan Google dan Facebook. 

Teknologi laser adalah teknologi yang menjanjikan untuk negara-negara berkembang dan di bagian-bagian dunia di mana penanaman kabel sulit dilakukan, kabel mudah rusak atau di daerah terpencil di mana tenaga kerja dan bahan baku cenderung mahal.
(Sumber: voaindonesia.com)

Source : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/laser-masa-depan-konektivitas-internet

N219, Pesawat Perintis Karya Anak Negeri



Pesawat perintis N219 ini didesain sesuai dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak pulau terpencil.

Pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia. (Tribunnews via Kompas.com)

 Setelah mengalami krisis ekonomi yang pelik, PT Dirgantara Indonesia (DI)—pabrik pesawat terbang pertama dan satu-satunya milik pemerintah Indonesia—kembali beroperasi dan menelurkan karya.

Bersama Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), PT DI mengerahkan 150 ahli penerbangan untuk merancang pesawat yang diberi nama N 219.

Pesawat N-219 merupakan pesawat perintis yang kelak akan digunakan untuk menghubungkan pulau-pulau terpencil di Indonesia. N-219 akan keluar hangar dan diperlihatkan kepada publik dalam waktu dekat.

Pesawat N 219 didesain sesuai dengan kondisi bandara perintis di Indonesia, yang umumnya terletak di kawasan timur Indonesia. Pada umumnya, bandara perintis terletak di daerah yang dikelilingi pegunungan tinggi, seperti di Papua dan Maluku.

Pesawat N219 ini tidak saja mampu lepas landas dan mendarat di bandara yang memiliki keterbatasan panjang landasan pacu, tetapi juga yang landasannya berumput atau berkerikil.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. DI Andi Alisyahbana mengatakan prototip atau purwarupa pesawat N219 yang mulai dibuat pada September 2014 itu menggunakan 40% konten lokal.

“Rencananya nanti kami akan meningkatkan konten lokal pada pesawat jenis ini hingga 60%,” tambah Andi. 

Source : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/11/n219-pesawat-perintis-karya-anak-negeri 

Jembatan Kertas Ini Mampu Menahan Beban Mobil



Sebuah origami jembatan di Suzhou, Tiongkok yang terbuat dari kertas mampu dilalui sebuah mobil dengan mulus tanpa merusak apalagi membuat jembatannya runtuh.

 Sebuah jembatan di Suzhou, Tiongkok yang terbuat dari kertas mampu dilalui sebuah mobil dengan mulus. (Dailymail.co.uk via Intisari Online)

Sebuah bangunan berupa jembatan yang terbuat dari kertas mampu menahan beban mobil yang melaju di atasnya. Sepintas, ini mungkin tidak masuk akal. Nyatanya, itulah yang terjadi di Tiongkok.

Sebuah origami jembatan di Suzhou, Tiongkok yang terbuat dari kertas mampu dilalui sebuah mobil dengan mulus. Tanpa rusak apalagi membuat jembatannya runtuh. Kejadian langka ini merupakan bagian dari peringatan ulang tahun ke-45 dari Land Rover. Jembatan sepanjang lima meter tersebut terbuat dari  54.390 lembar kertas yang disediakan oleh produsen Inggris, James Cropper PLC.

Jembatan ini dirancang oleh seniman environmental, Steve Messam, dalam jangka waktu tiga hari. Uniknya, hal tersebut dilakukan tanpa menggunakan lem atau baut. Sebaliknya, ia hanya merangkai kertas tersebut hingga mampu menahan beban dengan kuat.

“Struktur Kertas ini sangat mendukung untuk menahan beban meskipun pola seperti ini tidak pernah dicoba,” kata Messam.

Pembuatan jembatan tersebut dibangun menggunakan rancangan abutment kayu khusus, terutama di bagian lengkungannya. Kertas-kertas tersebut kemudian disusun sedemikian rupa di atas kerangka hingga benar-benar kuat.

Ketika diuji, sebuah mobil kemudian menaiki jembatan tersebut dengan sudut 34,7 derajat hingga berada di titik puncak jembatan tersebut dimana beratnya kemudian ditopang oleh teknik lengkungan jembatan.

Kertas sisa dari pembuatan jembatan tersebut nantinya akan didaur ulang oleh perusahaan Land Rover untuk digunakan kembali nantinya.
(Sumber: Intisari Online)

Source : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/11/jembatan-kertas-ini-mampu-menahan-beban-mobil

Ilmuwan Kembangkan Tanaman Elektrik Pertama



Teknologi ini memungkinkan ilmuwan untuk mengatur pertumbuhan dan proses kimia pada tanaman

 Tanaman Mawar dalam eksperimen tanaman elektronik (Linköping University)

Sekelompok ilmuwan dari Linköping University di Swedia telah mengembangkan tanaman elektrik pertama, menciptakan baik sirkuit analog dan digital dalam kehidupan Mawar. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengatur pertumbuhan dan proses kimia pada tanaman, serta memanfaatkan fotosintesis guna membuat sel surya baru.

Kelompok dari Swedia ini menambahkan polimer dalam sistem alami pembuluh dan daun mawar, dari penambahan polimer tersebut menunjukkan kemungkinan untuk membuat komponen listrik yang menyerupai kabel, transistor, dan bahkan elemen layar.

Tim peneliti menggunakan polimer yang sangat konduktif, disebut PEDOT-S, untuk membentuk kabel dalam interior xilem, jaringan yang membawa air di sekitar tanaman. Kabel berkumpul dengan mengekspos stek mawar ke dalam larutan polimer, yang tersebar merata di seluruh tanaman, lapisan xilem dan membentuk struktur konduktif lebih dari 5 cm (2 inci). Karena polimer tidak sepenuhnya mengisi xilem, kemampuan tanaman untuk membawa air dan nutrisi di sekitar menjadi tidak terbatas.
Tanaman getah penuh ion (bermuatan molekul) digunakan Mawar untuk mengatur pertumbuhan dan energi transportasi. Menggunakan kabel dan getah, keduanya mampu menciptakan transistor elektrokimia, mengubah sinyal ionik menghasilkan output elektronik. Transistor ini berperilaku hampir sama persis seperti yang ditemukan pada komputer dan telepon.

Para ilmuwan juga meresapi daun tanaman dengan polimer yang berbeda, anggota lain dari keluarga PEDOT, yang menciptakan "piksel" di sekitar pembuluh Mawar. Dengan mengirimkan sinyal elektrokimia melalui pembuluh, mereka mampu mengaktifkan piksel, mengubah warna pada daun dengan tampilan sederhana, beralih antara hijau terang ke hijau tua.

Profesor Magnus Berggren, pemimpin kelompok yang mengembangkan teknologi ini, percaya bahwa pengembangan tanaman elektrik bisa memiliki dampak besar dalam memahami tanaman lebih baik lagi, serta mengembangkan teknologi yang terintegrasi seperti fotosintesis berbasis sel bahan bakar, bio-sensor, serta perangkat yang mengatur pertumbuhan dan mengontrol fungsi dalam tanaman.

"Perluasan dari prestasi kami yang sekarang, saya akan menemukan kombinasi sensor dan perangkat pengiriman untuk hormon tanaman yang menjadi konsekuensi utama, sehingga kami dapat merasakan dan merekam pola sinyal kimia pada tanaman, dan kemudian mengatur fisiologi untuk mempengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan, saat berbunga, dan proses lainnya dari tanaman," kata Profesor Berggren.

Ia menekankan bahwa hal ini bisa menciptakan lapangan penelitian baru. Penemuan ini merupakan ada pertama kalinya, sebuah pencapaian prestasi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Sciences Advances.
(K.N Rosandrani/IFLScience)

Source : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/11/ilmuwan-kembangkan-tanaman-elektrik-pertama